Samarinda — Wakil Ketua Umum DPP AMPI Arief Rosyid Hasan, mengajak generasi muda Kalimantan Timur untuk mengambil peran lebih besar dalam menentukan masa depan daerah dan bangsa. Menurutnya, posisi strategis Kalimantan Timur sebagai pusat energi nasional dan lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN) menuntut lahirnya generasi muda yang tidak hanya menjadi penonton, tetapi tampil sebagai pemain utama dalam proses pembangunan dan politik.
“Kalimantan Timur bukan daerah pinggiran. Kaltim adalah salah satu penyangga utama ekonomi Indonesia, terutama di sektor energi dan sumber daya mineral. Karena itu, orang muda Kaltim harus berhenti menjadi penonton yang hanya melihat perubahan dari kejauhan. Sudah waktunya menjadi pemain yang ikut menentukan arah kebijakan dan memastikan manfaat pembangunan benar-benar dirasakan rakyat,” ujar Arief saat menghadiri silaturrahim di Samarinda.
Arief menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto saat ini sedang berupaya menegakkan amanah konstitusi, khususnya Pasal 33 UUD 1945, yang menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dalam konteks tersebut, Kalimantan Timur memiliki posisi yang sangat penting karena menjadi salah satu pusat penghasil energi dan sumber daya mineral nasional.
“Pasal 33 UUD 1945 bukan sekadar teks konstitusi. Ia adalah mandat perjuangan. Presiden Prabowo sedang berikhtiar memastikan kekayaan alam Indonesia tidak hanya dinikmati segelintir pihak, tetapi benar-benar menjadi instrumen kesejahteraan rakyat,” katanya.
Lebih lanjut, Arief menyampaikan bahwa Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendapat mandat langsung dari Presiden Prabowo untuk memperbaiki tata kelola sektor energi dan sumber daya mineral agar lebih berkeadilan. Berbagai langkah yang dilakukan pemerintah, termasuk legalisasi sumur rakyat, peningkatan produksi energi nasional, hingga penguatan hilirisasi, merupakan bagian dari perjuangan agar kekayaan alam Indonesia dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, khususnya rakyat Kalimantan Timur.
“Bahlil Lahadalia sedang berada di garis depan untuk memastikan amanah Pasal 33 UUD 1945 berjalan. Atas perintah Presiden Prabowo, beliau berjuang agar seluruh sumber energi dan sumber daya mineral dapat dikelola secara lebih adil, lebih produktif, dan hasilnya kembali kepada rakyat Indonesia, termasuk masyarakat Kalimantan Timur,” tegasnya.
Arief juga mengingatkan bahwa momentum pembangunan nasional saat ini harus dimanfaatkan oleh generasi muda Kaltim untuk memperkuat kapasitas, jaringan, dan kepemimpinan. Menurutnya, tidak boleh lagi ada mentalitas inferior yang membuat anak-anak muda hanya menjadi objek pembangunan. Sebaliknya, mereka harus menjadi subjek yang aktif mengambil peran dalam dunia usaha, politik, birokrasi, maupun berbagai ruang pengabdian publik lainnya.
“Kita tidak boleh hanya mendapatkan remah-remah dari kekayaan yang ada di tanah sendiri. Orang muda Kaltim harus masuk ke gelanggang, menjadi pengambil keputusan, menjadi pengusaha, menjadi pemimpin, dan menjadi bagian dari solusi. Kaltim membutuhkan generasi yang berani menjadi pemain,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Arief juga menyinggung pentingnya soliditas politik nasional. Menurutnya, hubungan erat antara Partai Gerindra dan Partai Golkar yang kini semakin kokoh dalam semangat koalisi permanen merupakan modal penting untuk menjaga stabilitas pemerintahan dan keberlanjutan pembangunan nasional.
“Soliditas Partai Gerindra dan Partai Golkar sebagai koalisi permanen merupakan fondasi kuat untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Stabilitas politik yang kuat akan mempercepat pelaksanaan agenda-agenda strategis bangsa, termasuk kedaulatan energi, hilirisasi industri, pembangunan IKN, dan pemerataan kesejahteraan di seluruh daerah,” jelasnya.
Menutup pernyataannya, Arief mengajak kader HMI dan seluruh generasi muda Kalimantan Timur untuk mengambil bagian dalam perjuangan kebangsaan melalui berbagai bidang pengabdian.
“Sejarah selalu ditentukan oleh mereka yang berani mengambil peran. Saya mengajak orang muda Kaltim untuk keluar dari bangku penonton. Saatnya menjadi pemain politik, pemain pembangunan, dan pemain peradaban demi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.” tegas Arief.












