KULON PROGO – Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, memastikan bahwa cadangan beras nasional berada dalam posisi yang sangat aman untuk menghadapi momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2026. Hal ini ditegaskan usai jajaran Komisi IV melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke gudang Perum Bulog Trihajo, Wates, Kabupaten Kulon Progo, DIY, Kamis (12/2/2026).

Langkah peninjauan lapangan ini bertujuan untuk memvalidasi data pemerintah dengan kondisi riil di gudang-gudang penyimpanan daerah.

Cetak Sejarah: Cadangan Beras Tertinggi Sejak Merdeka

Berdasarkan hasil sidak, Firman memberikan apresiasi tinggi kepada pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian dan Bulog. Data menunjukkan bahwa stok beras nasional saat ini menembus angka 3,32 juta ton.

"Ini merupakan angka tertinggi dalam sejarah dan menjadi modal penting menghadapi kebutuhan menjelang Ramadhan dan Lebaran," ujar Firman dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (14/2/2026).

Prestasi ini menjadi kian signifikan karena Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tersebut berhasil dicapai tanpa ketergantungan pada impor besar-besaran. Secara total, estimasi stok beras nasional mencapai 12,5 juta ton, yang dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi hingga beberapa bulan ke depan.

Waspadai Anomali Cuaca dan Jalur Distribusi

Meski stok melimpah, Firman mengingatkan pemerintah untuk tidak lengah terhadap tantangan alam. Ia menyoroti potensi anomali cuaca yang dapat memicu banjir dan mengganggu stabilitas pangan melalui dua jalur:

  1. Hambatan Distribusi: Banjir dapat memutus akses transportasi, yang berisiko memicu kenaikan harga di tingkat konsumen meskipun stok di gudang tersedia.

  2. Risiko Produksi: Cuaca ekstrem di wilayah sentra pertanian berpotensi menyebabkan gagal panen, yang dapat menyulitkan penyerapan gabah oleh Bulog pasca-Lebaran.

DIY Sebagai Pilar Penopang Pangan

Wilayah DIY, melalui sentra pertanian di Kulon Progo, Sleman, Bantul, dan Gunungkidul, dinilai memiliki kontribusi kuat dalam menjaga pasokan, baik di tingkat regional maupun nasional. Firman memastikan bahwa dari hasil pantauan di DIY, tidak ditemukan persoalan krusial terkait ketersediaan fisik beras.

"Yang perlu diantisipasi adalah kemungkinan anomali cuaca. Jika terjadi banjir dan akses jalan terganggu, distribusi akan terhambat. Itulah yang harus kita mitigasi sejak dini," pungkasnya.


Sumber : Golkar2029