CIANJUR – Komitmen Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) terhadap korban gempa Cianjur terbukti bukan sekadar "hit and run". Setelah menyalurkan bantuan logistik darurat pada akhir November lalu, AMPI kembali menerjunkan tim ke lokasi bencana pada tanggal 16 Desember 2022. Kali ini, misi utama mereka lebih mendalam: menyembuhkan luka batin melalui program Trauma Healing.

Mengembalikan Senyum di Tenda Pengungsian

Bencana gempa tidak hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga mengguncang psikologis para korban. Menyadari hal tersebut, DPP AMPI bergerak memberikan dukungan psikososial (psychosocial support) kepada warga yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.

Terlihat dalam foto kegiatan, tim relawan AMPI yang mengenakan rompi kuning dan seragam loreng biru berbaur hangat dengan warga dan aparat setempat. Senyum yang terpancar dari wajah para relawan dan warga, termasuk seorang perempuan muda di tengah barisan, menjadi simbol harapan bahwa kebangkitan itu nyata.

Kehadiran tokoh masyarakat setempat (mengenakan kemeja putih dan peci hitam) di tengah-tengah relawan AMPI menunjukkan sinergi yang kuat antara organisasi kepemudaan dan pemerintah desa dalam menangani dampak pasca-gempa.

"Membangun kembali rumah yang runtuh butuh waktu, tapi membangun kembali semangat yang patah harus dilakukan segera. AMPI hadir kembali di Cianjur untuk menemani, mendengar, dan memastikan warga memiliki kekuatan mental untuk bangkit kembali," ujar perwakilan tim AMPI di lokasi.

Misi Kemanusiaan Berkelanjutan

Program Trauma Healing ini diisi dengan berbagai aktivitas interaktif yang bertujuan mengurangi kecemasan dan stres pasca-trauma, khususnya bagi kelompok rentan. Kehadiran AMPI diterima dengan tangan terbuka oleh warga yang merasa diperhatikan secara berkelanjutan, tidak hanya saat berita gempa sedang hangat-hangatnya.

Aksi pada 16 Desember ini menutup rangkaian kegiatan kemanusiaan AMPI di tahun 2022 dengan pesan yang sangat kuat: Kemanusiaan adalah napas perjuangan AMPI.